Tampilkan postingan dengan label Seni Bela Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Bela Diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

Karate

Sebuah teori mengatakan bahwa asal mula karate berasal dari ilmu bela diri Okinawa. Te atau Okinawa-Te adalah seni bela diri asli setempat yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya, dan kemudian banyak dipengaruhi oleh teknik perkelahian yang dibawa oleh para ahli seni bela diri China yang mengungsi ke Okinawa. Sekitar Abad ke5, seorang pendeta Budha yang terkenal bernama Bodhidharma (Daruma Daishi) mengembara dari India ke China untuk menyebarkan dan membetulkan agama Budha yang menyimpang selama ini di Kerajaan Liang dibawah Kaisar Wu. Setelah perselisihannya dengan Kaisar Wu karena perbedaan pandangan dalam ajaran agama Budha, Bodhidharma mengasingkan diri di biara Shaolin Tsu di pegunungan Sung di bagian selatan Loyang Ibukota Kerajaan Wei. Di situ lah dia melanjutkan pengajarannya dalam agama Budha dan menjadi cikal-bakal Sekte Zen.

Para Rahib Budha China pada waktu itu begitu lemah badannya, sehingga mereka tidak dapat menjalankan pelajaran-pelajarannya dengan baik. Setelah dia tahu hal ini, dia memberikan Buku Kekuatan Fisik kepada murid-muridnya, suatu buku petunjuk mengenai latihan fisik. Buku ini mengajarkan teknik pukulan yang dinamakan 18 Arhat, yang kemudian menjadi terkenal sebagai Shaolin Chuan. Suatu pendapat lain mengatakan, bahwa cerita di atas tadi adalah dongeng semata-mata. Bagaimanapun juga Bodhidharma adalah anak laki-laki ke-3 (tiga) dari Raja India Selatan. Dan sebagai Pangeran, dia ahli ilmu perang yang menjadi salah satu pendidikannya, hal serupa dengan Sakyamuni. Lagi pula hanya orang dengan pikiran dan badan yang kuat yang dapat mengadakan perjalanan yang demikian jauh dan banyak rintangannya.

Seorang ahli ilmu bela diri lain yang sangat terkenal yang muncul pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) adalah Chang Sang Feng (Thio Sam Hong). Awalnya Chang belajar ilmu bela diri pada Shaolin Tsu , kemudian mengasingkan diri di gunung Wutang (Butong). Di tempat inilah dia mengamati macam-macam gerakan binatang, seperti kera, burung bangau, dan ular. Berdasarkan pengamatannya, dia menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya yang disebut aliran Wutang. Kalau Shaolin Chuan hanya dipraktekkan oleh para Pendeta Budha, maka aliran Wutang ini diperuntukkan orang awam yang tidak ada ikatan dengan aliran Kuil manapun. Chang mengaja rkan supaya menerima pukulan lawan dengan gaya lemah gemulai seperti air yang mengalir dan menyerang dengan satu kepastian untuk mengakhiri perlawanan dengan sekali pukul. Ciptannya didasari dengan gagasan tentang harus adanya gerak melingkar yang luwes dan gerakan ujung yang tajam. Aliran ini selanjutnya punya dampak yang luas di dalam perkembangan seni bela diri di China. Gaya aliran Wutang ini segera tersebar merata di seluruh Wilayah China bagian utara yang pada masa kemudian akan berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan.

Masih terdapat banyak tokoh seni bela diri yang menciptakan gaya dan aliran masing-masing. Diantaranya Chueh Yuan yang juga pernah belajar di Shaolin Tsu. Pada tahun 1151-1368 M dia berhasil menciptakan aliran baru dengan cara memperluas 18 pukulan Arhat menjadi 72 jurus. Dia berkeliling ke banyak Wilayah China dan kemudian bertemu dengan Po Yu Feng yang menciptakan pukulan Wu Chuan. Keduanya mengadakan kerjasama menciptakan satu aliran baru yang mencapai 170 macam gaya ilmu pukulan, diantaranya Lima Tinju, Tinju Naga, Tinju Harimau, Tinju Bangau, Tinju Macan Tutul, dan Tinju Ular. Di seluruh Wilayah China yang begitu luas, berbagai macam gaya dan aliran bela diri dikembangkan, yang akhirnya menyesuaikan diri deng an sifat-sifat lingkungan di mana gaya dan aliran itu berkembang dan dipraktekkan. Namun pada umumnya, berbagai aliran dan gaya yang ada dapat dibagi menjadi dua aliran yaitu aliran UTARA dan aliran SELATAN.

Aliran Selatan berasal dari daerah China Selatan di bagian hilir sungai Yang Tse. Karena beriklim sedang, sumber kegiatan ekonomi yang paling utama di wilayah ini adalah pertanian khususnya beras. Rakyat setempat cenderung bertubuh gempal dan kuat karena kegiatan kerja di sawah. Disamping itu di wilayah selatan terdapat banyak sekali sungai, sehingga alat lalu lintas yang utama adalah perahu. Dengan mendayung sehari-hari menyebabkan badan bagian atas lebih berkembang. Maka dengan demikian aliran selatan ini menekankan pada gaya melentur dan penggunaan tangan dan kepala.

Aliran Utara berkembang di wilayah China Utara di bagian hulu Sungai Yang Tse, dimana sifat daerahnya adalah pegunungan. Mengingat di wilayah ini banyak orang terlibat dengan perburuan binatang dan penebangan kayu sebagai sumber nafkah. Maka aliran utara ini lebih menekankan pada gerakan yang lincah dan penggunaan teknik tendangan.

Selama masa peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli bela diri China melarikan diri ke negara lain untuk membebaskan diri dari penindasan dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu yang menguasai China. Sebagai akibatnya ilmu bela diri China dari Jaman Ming ini disebarkan ke berbagai negara lain termasuk ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. Salah seorang diantaranya Chen Yuan Pao yang menuju ke Jepang, dimana dia selanjutnya mengajarkan gagasan dan teknik Judo. Sampai pada abad ke-15 Kepulauan Okinawa terbagi menjadi 3 (tiga) Kerajaan. Dan pada tahun 1470 Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan semua pulau di Kepulauan Okinawa di bawah kekuasaannya. Penguasa ke-2 dari golongan Sho, yaitu Shin Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata tajam. Kemudian Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai Kepulauan Okinawa, tetapi larangan terhadap pemilikan senjata tajam masih terus diberlakukan. Sebagai akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan ketrampilan fisik mereka untuk membela diri.

Pada saat yang sama, ilmu bela diri dari China mulai diperkenalkan di Okinawa melalui para pengungsi yang berdatangan dari China yang saat itu sudah dikuasai oleh bangsa Manchu (Dinasti Ching). Diantara para pengungsi itu ada sejumlah ahli seni bela diri dari China. Pengaruh ilmu bela diri dari China ini dengan cepat sekali menjalar ke seluruh Kepulauan Okinawa. Melalui ketekunan dan kekerasan latihan, rakyat Okinawa berhasil mengembangkan sejenis gaya dan teknik berkelahi yang baru yang akhirnya melampaui sumber aslinya. Aliran-aliran seni bela diri Te (aslinya Tode atau Tote) di Okinawa terbagi menurut nama daerah perkembangannya menjadi Naha-te, Shuri-te, dan Tomari-te. Naha-te mirip dengan seni bela diri China aliran selatan, khususnya dalam pola gerakan yang dilaksanakan dengan gaya yang kokoh dan sangat tepat bagi orang yang bertubuh besar. Shuri-te mirip dengan seni bela diri China aliran utara yang pola gerakannya lebih menekankan kegesitan dan keringanan tubuh. Sementara kaum Shimazu makin memperketat larangan atas pemilikan senjata tajam, latihan pola bela diri Te ini makin berkembang.

Di Jepang sendiri juga telah ada pola bela diri sejak jaman dulu. Diantaranya yang sangat terkenal sampai saat ini ialah gulat Sumo. Dahulu Sumo sifatnya sangat keras dan ganas, dimana para pesertanya diperbolehkan saling pukul dan tenda ng dan secara mental memang sudah siap mati. Baru pada abad ke-8, pukulan dan tendangan yang mematikan tidak diperbolehkan lagi. Pertandingan Sumo kemudian sudah sangat mirip dengan pertandingan Sumo pada masa sekarang ini. Tokoh seni bela diri China yang mengungsi dari penjajahan bangsa Manchu juga tersebar ke seluruh Jepang. Berbagai macam gaya dan teknik yang mereka sebarkan menyebabkan timbulnya aliran-aliran baru. Di bawah pengaruh dan bimbingan Chen Yuan Pao, aliran Jiu Jitsu atau seni beladiri aliran lunak didirikan oleh beberapa tokoh beladiri Jepang. Konsep bahwa "Kelunakan dapat mengalahkan kekerasan" dinyatakan berasal dari China, dan aliran ini mengembangkan pengaruhnya yang penting pada pola bela diri lainnya. Diantaranya yang sangat populer ial ah Judo yang didirikan oleh Jigoro Kano.

Karena keuletannya untuk meneliti, melatih, dan mengembangkan diri, Judo telah berhasil diterima merata di seluruh Jepang sebagai satu cabang olah raga modern. Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi yang lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1869 untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari China, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia.

Sejarah Funakoshi tidak bisa dipisahkan dengan sejarah keagungan karate. Dimulai sebagai seorang anak yang lemah, pesakitan dan memiliki kesehatan yang kurang baik, orang tua Funakoshi membawanya kepada maestro beladiri pada saat itu yaitu Yasutsune Itosu untuk mengajarinya karate bersama Yastsune Azato ( Azato memberikan banyak pelajaran kepada Funakoshi untuk membangun pikiran disiplin dan tehnik karate).Dengan dibantu oleh seorang dokter, Tokashiki, yang memberikan ramuan-ramuan alami untuk menguatkan fisiknya, dan latihan yang diberikan oleh Azato dan Itosu, Funakoshi tumbuh menjadi orang yang kuat dan gagah. Dia menjadi murid menonjol ketika menjadi murid Arakaki dan Sokon “Bushi” Matsumura. Dia menguasai dan mencapai taraf yang tinggi dalam kedisiplinan. Maestro Funakoshi selalu menceritakan disetiap kesempatan sejarah hidupnya pada bagian ini. Ketika dia hidup bersama kakek neneknya, dia mulai memasuki sekolah wajib dimana dia sekelas dengan anak guru Azato dan menerima intruksi karate pertama dari Yatsusune (Ankoh) Azato.

Ketika pada akhirnya Funakoshi datang ke Jepang dari Okinawa, tahun 1922, dia tinggal bersama orang-orang sekampung halaman di sebuah asrama mahasiswa di Suidobata, Tokyo. Dia tinggal di dalam kamar yang kecil dekat pintu dan dia akan membersihkan asrama ketika para mahasiswa pergi kuliah. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun, dan pada malam hari Funakoshi mengajar karate kepada para mahasiswa.

Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, ia mendirikan sekolah karate pertamanya di Meishojuku. Setelah itu dia mendrikan sekolah karate di Mejiro, dan akhirnya dia memiliki tempat untuk menghasilkan murid generasi penerus karate, seperti, Takagi dan Nakayama dari Nippon Karate Kyokai, Yoshida dari Takudai, Obata dari Keio, Shigeru Egami dari Waseda ( pembawa sukses dalam perkembangan karate ), Hironishi dari Chuo, Noguchi dari Waseda dan Hirori Ohtsuka ( Otsuka ).

Pada saat melakukan perjalanan keliling Jepang untuk mengenalkan dan mengajar karate, Funakoshi selalu mengajak Takeshi Shimoda, Yoshitaka ( anaknya ), Egami dan Ohtsuka untuk menyertainya. Murid utamanya adalah T. Shimoda dan Y. Funakoshi.

Shimoda merupakan lulusan Nen-ryu Kendo School, dia juga berlatih Ninjutsu, tetapi dia sangat tidak beruntung, Dia sakit dan meninggal pada saat masih muda , tahun 1934, setelah melakukan sebuah perjalanan pertunjukan karate. Dia digantikan oleh Gigo ( Yoshitaka) Funakoshi, yang memiliki karakter yang sangat baik dan tehnik karate yang sangat tinggi. Shigeru Egami berpendapat bahwa tidak ada orang yang lebih baik untuk menggantikannya. Dikarenakan jiwa muda dan metode latihan yang keras ( bahkan dapat dikatakan sebagai latihan yang kuat dan brutal ), membuat terjadinya konflik dengan golongan tua. Othsuka Hironori, yang mengatakan tidak dapat menerima latihan yang sangat keras. Akhirnya Otsuka keluar dan mendirikan sekolah karate sesuai dengan gayanya sendiri, yang diberi nama Wado-Ryu ( Jalan keharmonisan ), dan secara nyata nama itu menyindir Yoshitaka. Dalam jangka panjang metode latihan Yoshitaka adalah sangat penting bagi masa depan karate-do. Tetapi, sekali lagi, dia meninggal dalam usia muda, tahun 1945, ketika berumur 39 tahun, penyakit TBC ( Tuberculosis) menghantarkan dia pada kematian.

Pada abad awal abad ke-20, ketika momentum ultra-nasionalis melanda jepang, perkembangan seni beladiri di Jepang mengalami kemunduran, orang yang berlatih beladiri dianggap sebagai penyembah berhala(pagan) dan seni kebrutalan ( savage art). Funakoshi mencoba mengatasi prasangka tersebut, dan akhinya berhasil mendapatkan pengakuan bahwa karate merupakan salah satu seni beladiri Jepang tahun 1941.

Setelah itu banyak pekumpulan karate berdiri di Jepang. Pada tahun 1942, karate diperkenalkan di Universitas Keio sebagai klub karate pertama, yang lainya termasuk Chuo, Waseda (1930), Hosei, Universitas Tokyo (1929). Klub yang lain didirikan di Shichi-Tokudo, di lingkungan tangsi militer di sudut halaman Istana.

Funakoshi mengunjungi Shichin-Tokudo setiap beberapa hari sekali untuk mengajar, ketika Otsuka mengajar di Shichin-Tokudo, seorang murid, Kogura, dari Universitas Keio yang menyandang Dan III ( san-dan ) Kendo ( Seni melidungi diri Jepang/Japanese Fenching ) dan juga penyandang sabuk hitam karate, mengambil pedang dan berhadapan dengan Otsuka. Semua murid melihatnya dan menunggu apa yang akan terjadi. Mereka menyangka dengan kemahirannya dalam kendo, tidak seorang pun yang dapat menghadapinya dengan pedang terbuka (the shinken). Otsuka terlihat tenang melihat Kogura dan pada saat Kogura mengerakkan pedangnya, Otsuka menyapu kakinya dan Kogura jatuh terjerembab. Kejadian ini tidak banyak diceritakan, dan hal ini membuktikan keahlian Otsuka. Kejadian itu juga membuang kejemuan terhadap filosofi Funakoshi bahwa latihan kata/jurus lebih dari sekedar cukup waktu yang dibutuhkan dan juga sangat penting untuk menujukkan kemampuan besar Gichin Funakoshi sebagai guru dan karateka.

Pada tahun 1922, tiga muridnya, Miki, Bo dan Hirayama berpendapat bahwa berlatih kata saja tidak cukup. Mereka mulai mengenalkan pertarungan bebas ( Jiyu Kumite ). Mereka membuat pelindungan badan dan menggunakan pelindung kepala kendo di dalam pertandingan. Funakoshi mendengar tentang penyimpangan ini, dan tidak menghalangi usaha yang dia anggap telah mengurangi arti seni beladiri karate. Funakoshi menghentikan kunjungannya ke Shichin-Tokudo. Baik Funakoshi dan Otsuka tidak pernah terlihat lagi. Setelah kejadian tersebut Gichin Funakoshi melarang adanya pertandingan karate. ( Tidak pernah ada pertandingan karate hingga setelah ia meninggal tahun 1958).

Ketika Funakoshi datang ke Jepang, ia membawa 16 kata, yaitu 5 pinan (heian), 3 naihanchi (Tekki), kushanku-dai (Kanku-dai), kushanku-sho (Kanku-sho), seisan (Hangetsu), patsai (bassai-dai), Wanshu (Empi/Enpi),chinto (Gankaku), jutte (jitte) dan Jion. Dia memberikan muridnya kata dasar sebelum mereka menunjukkan kemajuan yang berarti untuk meningkat ke tingkat lanjutan. Pada saat itu tidak kurang dari 40 kata masuk dalam kurikulum, kemudian dimasukkan dalam edisi terbatas “ Karate-do for specialist” yang merupakan karya monumental dari Shigeru Egami.

Jigoro Kano, penemu seni beladiri Judo moderen, sekali waktu mengundang Funakoshi dan temannya, Makoto Gima, untuk melakukan pertunjukan seni beladiri di Kodokan (Tomisaka). Kira-kira ribuan orang menyaksikan pertunjukan tersebut. Gima yang belajar setelah Yabu Kenstu adalah pemuda dari Okinawa, memainkan kata Naihanshi Shodan, dan Funakoshi memaikan Kata Koshokun ( Kushanku-dai ).

Sensei Kano menyaksikan pertujukan tersebut dan menanyakan tentang tehnik yang terkandung didalamnya. Dia merasa sangat kagum. Dia mengundang Funakoshi dan Gima untuk menghadiri upacara tendon ( makan malam dengan nasi dan ikan-fish and rice dinner), mereka menyanyi dan berkelakar untuk menyenangkan Funakoshi.

Didalam ketulusannya mengajarkan seni beladiri karate yang baik dan benar, Funakoshi bukan tanpa hujatan. Kritik menghina menyangkut ketegasannya dalam aturan mempelajari kata, dan mempelajari apa yang mereka sebut “lembut” karate merupakan hal yang menyia-nyiakan waktu. Funakoshi tegas terhadap aturan hito-kata sanen ( tiga tahun satu kata ).

Funakoshi adalah orang yang rendah hati. Dia mengajari dan mempratekkan apa yang dia katakan dengan kerendahan hati. Dia tidak memberikan nasehat tentang kebajikan dan kerendahan hati, tetapi pada dasarnya kerendahan hati seseorang adalah bersumber pada pandangan yang benar terhadap sesuatu dan hidup penuh dengan kesadaran. Dia hidup dengan damai dengan dirinya dan orang disekelilingnya.

Kapanpun nama Gichin Funakoshi disebutkan, akan mengingatkan kita pada perumpamaan “ A man of Tao (Do) dan “ A little Man”. Dikatakan seorang murid bertanya “ Apa bedanya antara- a man of tao -dengan a little man ?” Guru menjelaskan ,” sederhana sekali, ketika a little man menerima “dan” ( kelulusan atau rangking ), dia tidak akan sabar menunggu untuk pulang kerumah dan naik keatas kemudian mengatakan kepada semua orang bahwa dia telah mendapatkan “dan” pertamanya. Ketika menerima “dan” keduanya, dia akan naik hingga ke ujung tiang dan mengumumkannya kepada semua orang. Ketika menerima “dan” ketiganya, dia melompat di atas mobilnya dan berparade keliling kota sambil membunyikan klakson, memberitahukan kepada semua orang tentang “dan” ketiganya”.

Guru melanjutkan, “ Ketika- a man of Tao-menerima “dan” pertamanya, dia akan menundukan kepalanya sebagai tanda berterima kasih dan bersyukur. Ketika menerima “dan” keduanya, dia akan menundukan kepalanya hingga kebahu. Ketika menerima “dan” ketiganya, dia akan menundukan kepalanya hingga pinggang dan diam-diam dia berjalan disamping dinding sehingga orang tidak dapat melihat dia.
Funakoshi adalah “ a man of Tao”. Dia tidak memiliki keistimewaan apapun dalam sebuah kompetisi, catatan kemenangan, atau kejuaraan. Keistimewaannya terletak pada kepribadiannya.

Sumber : http://my.opera.com/Meyandi/blog/sejarah-karate

Judo

Sejarah judo Sebagai akibat lebih lanjut dari politik “pintu terbuka” yang diterapkan oleh komodor Perry (1893 M), memasuki abad XX Jepang memulai program reformasi yang disebut Restorasi Meiji (1868-1912 M). Negara sakura ini mengalami perubahan besar-besaran dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Pada tahun 1859 M muncullah penguasa yang paling berpengaruh diawal masa restorasi : Shogun Tokugawa. Pada masanya, kaum feudal yang dimotori oleh pendekar-pendekar samurai sebagai elite utama militer, mulai surut kekuasaannya. Bersama-sama dengan para petani, para tukang dan kaum pedagang, para samurai mempunyai derajat yang sama dibawah kaisar. Zaman semakin damai dan kalangan militer semakin beradaptasi dengan keadaan ini.

Latihan-latihan bela diri yang semula hanya dikuasai kalangan militer dipulihkan dan terbuka bagi masyarakat luas. Pada tahun 1870 sorang remaja bernama Jigoro Kano datang dari Hyogo untuk melanjutkan pendidikannya di Setatsu-sho Juko dan Ikeui Gijiku di Tokyo. Ia dilahirkan pada tanggal 28 oktober 1860 sebagai putra ketiga dari Jirosaku Mareshibu Kano. Kelak, ia akan docatat sebagai figure paling penting dalam perkembangan olah raga judo. Tahun 1877 Jigoro Kano mulai belajar jujitsu di Kaisei Gako yang sekarang bernama Universitas Tokyo. Ia mempelajari aliran tenjin shinyo ryu langsung dibawah asuhan Masamoto Iso dan Machino Suke Fukuda. Disitulah ia mempelajari randori dan kata.

Lalu ia mempelajari aliran kito ryu yang dibimbing Tsunetoshi Shikobu yang mengajarkannya bentuk-bentuk jujitsu yang sama sekali berbeda dengan apa yang ia pelajari selama ini. Diluar itu Jigoro Kano juga tekun mempelajari sendiri buku-buku jujitsu dari aliran lainnya.Cita-citanya untuk menjadi pendidik mulai mendapatkan jalan. Karir Jigoro Kano sebagai pendidik diawali pada tahun 1882 dengan mengajar di Gakusui. Waktu itu ia memilih teknik-teknik terbaik dari berbagai aliran jujitsu yang sudah berkembang sejak zaman Edo. Selain memperbaiki beberapa bagian, ia juga menciptakan teknik-teknik baru yang kelak dikenal sebagai Judo Kodokan.

Dojo Jigoro Kano terletak di Shinoyo Tokyo, disana ia memperhalus teknik-teknik Judo yang berasal dari jujitsu terutama aliran Kito Ryu dan Tenjin shinyo ryu. Ia mengkaji berbagai jenis teknik secara ilmiah dan rasional untuk mendapatkan konsep-konsep baru yang pada intinya adalah perpaduan antara kekuatan dan kelembutan. Atas temuannya yang diakui Kementrian Pendidikan Jepang, Jigoro Kano mendapat gelar terhormat : Profesor Jigoro Kano. Tahun 1939, dalam pelayaran dari Kanada diatas kapal Hikawa Moru, Prof. Jigoro kano wafat karena sakit dalam usia 79 tahun. Namun Judo telah mulai merambah dunia, dan tahun 1943 sebuah gedung besar modern dibangun di Tokyo sebagai pusat Judo seluruh dunia.

Pengertian Judo Judo terdiri dari dua suku kata, yaitu JU dan DO. JU berarti halus atau lembut, sedangkan DO adalah cara atau jalan. Jadi arti kata Judo adalah “cara yang halus atau jalan yang lembut”, sedangkan jujitsu adalah “teknik yang halus”.

* Bantingan : dimana kaki seorang peserta terangkat (diangkat) dari matras dan tubuhnya dibanting dengan punggung yang jatuh menyentuh matras terlebih dahulu karena dibanting lawannya.
* Dekapan : dimana salah seorang peserta telah kehilangan control dalam dekapan lawan diatas matras.
* Mengunci lengan : tekanan yang diberikan pada siku atau pundak seorang peserta oleh peserta lain dalam usaha membuatnya menyerah.
* Tanda menyerah dinyatakan dengan tepukan pada matras atau badan lawan dengan tangan atau kaki. Bila tangan atau kaki terkunci sehingga tidak bisa bergerak, tanda menyerah bisa dlakukan dengan teriakan..
* Cekikan : membatasi mengalirnya hawa kedalam kerongkongan dan membatasi mengalirnya darah kekepala – adalah tanda bahaya untuk segera menyerah. Penundaan memberikan tanda menyerah pada cekikan ini dapan menyebabkan hilangnya kesadaran atau pingsan untuk semnetara waktu.

Syarat mutlak penguasaan suatu teknik Judo dengan cara melakukan latihan fisik. Namun kunci pokok adalah “peningkatan penguasaan diri dengan penuh kesabaran untuk mengatasi rasa sakit dan kekalahan” yang sudah menjadi system nilai masyarakat Jepang. Latihan Judo memadukan potensi jiwa dan raga yang harus seimbang.

Sumber : http://my.opera.com/Meyandi/blog/2009/05/09/judo

Rabu, 03 Maret 2010

Muaythai

Muaythai (Krabbi Krabbong)

Muaythai atau Thai Boxing berkembang sejak hampir 1000 tahun yang lalu di Thailand dan telah menjadi olahraga nasional bangsa Thailand. Asal mula olahraga ini bernama Krabbi Krabbong. Pada masa pemerintahan Raja Phra Cao Sua (1702), yang juga dikenal dengan “Tiger King”, beliau mengajarkan Muaythai pada seluruh bala tentaranya. Raja sangat mencintai Muaythai.

Tahun 1774 telah dikenal petarung bernama Nai Khanom Tom, karena perangnya melawan Burma. Waktu itu ia tertangkap bersama dengan beberapa orang dari kota Siam (sekarang Thailand) yang bernama Ayyuthaya, lalu dipenjara di Burma. Nai Khanom Tom adalah petarung hebat pada masanya. Ia mewakili teman-temannya dalam sebuah kontes pertarungan yang diadakan Raja Mangra. Tanpa halangan ia pun berhasil mengalahkan sepuluh petarung terbaik Burma sekaligus dengan tangan kosong. Setelah itu Raja memberikan kebebasan sebagai hadiahnya, dan ia pun kembali ke Ayyuthaya sebagai seorang pahlawan.

Sejak itu seluruh tentara di Thailand berlatih untuk menggunakan Muaythai sebagai bekal apabila mereka perang jarak dekat tanpa senjata. Sejarah tersebut telah melegenda di seluruh pelosok dan menjadi bagian dari kebudayaan Thailand. Sekarang semua orang di Thailand sangat akrab dengan olahraga Muaythai ini sejak masih anak-anak. Bahkan disetiap desa sering melakukan kejuaraan-kejuaraan untuk mempunyai juara-juara yang tangguh.

Memadukan tehnik tendangan, sapuan kaki, lompatan, tehnik siku dan pukulan yang benar-benar ampuh. Bagi yang pernah nonton film Ong Bak pasti kenal ilmu bela diri ini. Disitu Tony Jaa memainkan Muay Thai tanpa trik-trik atau tipuan kayak film-film silat Hongkong.(http://forum.wgaul.com)



Silat

A Noble Indonesian Heritage For The World

Silat adalah silaturahmi. Pesilat, fisiknya mencari kawan, batinnya mencari Tuhan.





Ensiklopedi Silat Indonesia

Selasa, 02 Maret 2010

Wing Chun

Sebelum generasi saat ini sejarah Wing Chun tidaklah tercatat secara tertulis. Hanya masa lalu sampai kepada kita secara verbal. Itulah sebabnya mengapa ada dua versi tentang sejarah Wing Chun. Satu-satunya perbedaan antara dua versi ini adalah pendiri Wing Chun, Ng Mui. Versi yang diturunkan kepada kita melalui Akhir Grand Master Yip Man. Dia menyatakan bahwa Ng Mui adalah seorang biarawati. Versi melalui penelitian generasi baru kami percaya bahwa Ng Mui adalah seorang biarawati. Dipercaya bahwa waktu lama biarawan dan biarawati tidak bisa bekerja dan tinggal di kuil yang sama.

Ng Mui umumnya diakui sebagai pendiri Wing Chun. Ng Mui adalah salah satu dari lima tetua kuil Sil Lum tapi ia tidak selalu seorang biarawati. Ayahnya adalah salah satu dari delapan jenderal yang membantu Yeung Jung Wang untuk naik takhta. Yeung Jung Wang adalah kaisar pertama dari Dinasti Ching. Setelah ia menjadi kaisar, Yeung Jung Wang ayahnya sendiri dan delapan jenderal dibunuh. Ini adalah untuk mengurangi ancaman terhadap kekuasaannya sendiri. Ng Mui dikenal sebagai Sai Loi Leung pada saat itu. Untuk membalas dendam kematian ayahnya, dia membunuh kaisar dan pergi bersembunyi di Kuil Sil Lum di mana ia mengambil nama dari Ng Mui.

Sudah bela diri yang cakap, Ng Mui menjadi nomor satu penatua terampil di kuil. Dia pernah belajar di bawah Gunung Dong Mo-fu si Ho Lo Wan Yan. Dan lanjutan nya keterampilan seni bela diri dengan Sunn Bay Dook Lai. Ng Mui, sebenarnya adalah seorang praktisi Tao. Di kuil, Ng Mui mengembangkan gaya seni bela diri, setelah melihat tikus berjalan, yang disebut Bo Mui Siu Fa Kuen (Little Mouse Foot Work, Plum Flower Fist) . Setelah penelitian lebih lanjut, pengembangan, dan mengamati ular dan derek, Ng Mui memperbaiki gaya yang dikenal sebagai Ho Sei Bak Bo (Ular dan Crane Delapan Langkah). Dia kemudian memperbaiki gaya lebih lanjut dan dikenal sebagai Bo Ng Mui Fa Kuen (Plum Flower Fist). Ketiga gaya adalah pendahulu dari Wing Chun.

Selama masa pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644), kung-fu dipraktekkan dalam biara Lum Siu (Shao Lin) di Cina bagian selatan terutama sebagai bentuk latihan fisik. Dengan perebutan kuasa oleh Manchurians dan pembentukan Dinasti Ching Namun, banyak pejuang Ming mencari perlindungan di kuil tempat hidup mereka tidak terancam dan di mana beberapa orang yang bersimpati pada perjuangan mereka. Sementara itu, mereka menyiapkan diri untuk hari ketika mereka akan berusaha untuk menggulingkan pemerintah yang berkuasa. Itu selama periode waktu yang gung-fu mencapai puncaknya di Cina. Cukup ironis, ketika hampir semuanya sudah siap untuk memulai menyerang mereka, para Mings itu dikhianati oleh orang dalam. Akibatnya, Kaisar Ching takut astir sebuah revolusi, dan tentara menyerang dan membakar biara. Hanya segelintir orang dan lima tetua lolos pembakaran biara. Ng Mui, seorang master Siu Lum, mulai mengajar seni beladiri untuk orang awam. Murid-murid tersebut diwajibkan untuk menyembunyikan aktivitas mereka karena pemerintah Ching telah mengirim sejumlah ahli seni bela diri untuk membasmi mereka. Ng Mui menyadari bahwa dia harus menyelamatkan Siu Lum melawan kaisar seni dari upaya untuk menghapus semua jejak keberadaan mereka. Jadi, ia menyusun baru, sistem diubah pertempuran berdasarkan pengetahuan tentang apa yang telah menguasai dalam kuil. Pada intinya, gaya teknik dimanfaatkan efisiensi gerak dan sambungan langsung serangan dan dapat disempurnakan dalam waktu singkat.

Murid terbaik Ng Mui adalah seorang gadis muda yang cantik bernama Yim Wing Chun, tinggal bersama ayahnya, Yim Sam Rendam, di sebuah desa kecil di mana mereka mendapatkan penghidupan mereka dengan membuat dan menjual kue kacang. PopularitasYim Wing Chun di daerah dan berita kecantikannya menarik perhatian seorang tuan tanah jahat bernama Wong. Meskipun hal-hal seperti itu sering lazim diatur sebelumnya antara dua keluarga sebelum kelahiran anak-anak, dan Yim Wing Chun sudah berjanji akan menikahi Leung Bok Chau, Wong memutuskan akan tetap menikahinya. Setelah memperkenalkan diri untuk meminta tangannya dalam perkawinan, Wong ditolak oleh Yim Wing Chun dan ayahnya, jadi ia berencana untuk membawanya dengan paksa. Dalam waktu singkat Ng Mui mampu mengajar Yim Wing Chun untuk membela diri. Ketika Wong kembali dengan orang-orangnya, konfrontasi terjadi dan Wong terluka parah oleh Yim Wing Chun

Yim Wing Chun meneruskanbelajarnya di bawah bimbingan Ng Mui, dan kemudian menikah Leung Bok Chau. Selama bertahun-tahun mendatang, ia menggunakan prinsip-prinsip gaya yang ia pelajari dari Ng Mui dan mulai untuk meningkatkan dan menyederhanakan seni beladirinya. Setelah menyempurnakan seni secara signifikan, Yim Wing Chun mulai mengajarkan hal itu kepada suaminya. Leung Bok Chau sudah agak mahir dalam gaya-gaya lain seni bela diri. Terkesan oleh Yim Wing Chun pengetahuan dan kemampuan, ia mempelajari gayanya tekun dan belajar dengan cepat. Jadi, meskipun Ng Mui yang menemukan seni beladirinya, tapi Yim Wing Chun yang menyandang namanya dalam beladiri tersebut karena pengembangannya.

Leung Bok Chau mengajarkanTeknik Wing Chun kepada pamannya Leung Lan Qui. Leung Lan Qui mulai mengajar ke Wong Wah Bo dan Ye Tai Leung. Sepanjang generasi dari Leung Bok Chau kepada Wong Wah Bo, sistem yang Wing Chun semakin sulit dan ketat.

Jon Leung adalah seorang dokter herbal. Dia diajarkan oleh kedua Wong Wah Bo dan Leung Ye Tai. Jon Leung mampu menempatkan elemen keras dan lunak kembali. Murid Jon Leung , Chan Wa tidak mampu menguasai elemen lunak dan membuat sistem menjadi keras lagi.


Chan Wa adalah guru pertama Yip Man. Sayangnya Chan Wa segera meninggal di usia muda dan Yip Man tidak menyelesaikan instruksi. Sebagai seorang pemuda, Yip Man belajar bahasa Inggris di St Steven Sekolah Katolik di Hong Kong. Saat itu selama waktu yang Yip Man bertemu Leung Bik yang merupakan anak dari Jon Leung. Yip Man ditantang Leung Bik dan dipukuli. Ketika Yip Man tahu siapa Leung Bik itu, Yip Man diminta untuk menjadi salah satu murid Leung Bik. Leung Bik, adalah seorang yang kecil, tidak begitu berotot. Gayanya tidak begitu keras seperti itu dari Wa Chan Soon. Yip Man mampu belajar baik elemen keras dan lembut.

Ada juga cerita lain yang menceritakan bagaimana menantu Leung Bik (seorang wanita) mampu mengalahkan Yip Man dengan keahliannya dalam Wing Chun . Sejak waktu itu Yip Man tidak pernah mengatakan dia nomor satu di Wing Chun selama yang lain masih hidup .

Pada usia 24 tahun, Yip Man telah kembali ke Foshan, keterampilan Wing Chun-nya sangat meningkat. Di Foshan, Yip Man menjadi seorang polisi. Dia tidak secara formal mengelola sekolah Wing Chun, tetapi mengajarkan kepada beberapa bawahan, teman-teman dan kerabat.

Pada akhir 1949, setelah Partai Komunis Cina memenangkan perang saudara, karena dia seorang perwira Kuomintang, ia memutuskan untuk melarikan diri ke Hong Kong tanpa keluarganya ketika Komunis datang untuk Foshan.

Di Hong Kong, ia membuka sekolah seni bela diri. Awalnya, bisnis susah karena siswa biasanya hanya tinggal selama beberapa bulan. Dia memindahkan sekolahnya dua kali, dariHoi Tan Street (海 坛 街) di Sham Shui Po, dan kemudian ke Lee Tat Street (利达 街) di Yau Ma Tei. Pada saat itu, beberapa dari murid-muridnya cukup terampil sehingga mereka mampu memulai sekolah mereka sendiri.

Pada tahun 1967, Yip Man dan beberapa murid-muridnya mendirikan The Hong Kong Ving tsun Athletic Association (香港 咏春拳 体育 会).

Pada tahun 1972, Yip Man menderita kanker tenggorokan dan kemudian meninggal pada Desember 2 tahun yang sama.

Dalam tiga dekade karirnya di Hong Kong, ia mendirikan sistem pelatihan Wing Chun yang akhirnya menyebar di seluruh dunia.

Referensi:

http://www.fongswingchun.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Wing_Chun

Senin, 01 Maret 2010

Ninja


Shinobi atau Ninja( Seseorang yang bergerak secara rahasia ) adalah seorang pembunuh yang terlatih dalam seni ninjutsu jepang. Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi Nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara. Kagetora, Naruto, Ninja Rantaro, adalah contoh kecil manga yang mengangkat ninja sebagai tema utamanya. Apa ninja itu? Sama seperti yang dikisahkan dalam berbagai cerita bahwa ninja itu penuh rahasia. Ninja biasanya segera dikaitkan dengan sosok yng terampil beladiri, ahli menyusup dan serba misterius seperti yang tampak di dalam film atau manga. Dalam kenyataannya penampilan ninja yang serba hitam ada benarnya, namun jika ada anggapan bahwa ninja identik dengan pembunuh brutal, berdarah dingin, pembuat onar, tukang sabotase, tidak demikian adanya.

Kata ninja terbentuk dari dua kata yaitu nin dan sha yang masing-masing artinya adalah tersembunyi dan orang. Jadi ninja adalah mata-mata profesional pada zaman feudal jepang. Sejarah ninja juga sangat sulit dilacak. Info mengenai keberadaan mereka tersimpan rapat-rapat dalam dokumen-dokumen rahasia. Ninja juga bisa diartikan sebagai nama yang diberikan kepada seseorang yang menguasai dan mendalami seni bela diri ninjutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Kata ninja juga diambil dari kata ninpo. Po artinya adalah falsafah hidup atau dengan kata lain ninpo adalah falsafah tertinggi dari ilmu beladiri ninjutsu yang menjadi dasar kehidupan seorang ninja. Jadi ninja akan selalu waspada dan terintregasi pada prinsip ninpo.

Ninja dalah mata-mata profesionl di jaman ketika para samurai masih memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan jepang pada abad 12. Pada abad 14 pertarungan memperebutkan kekuasaan semakin memanas, informasi tentang aktifitas dan kekuatan lawan menjadi penting, dan para ninja pun semakin aktif. Para ninja dipanggil oleh daimyo untuk mengumpulkan informasi, merusak dan menghancurkan gudang persenjataan ataupun gudang makanan, serta untuk memimpin pasukan penyerbuan di malam hari.karena itu ninja memperoleh latiham khusus. Ninja tetap aktif sampai jaman edo (1600-1868), dimana akhirnya kekuasaan dibenahi oleh pemerintah di zaman edo.

B. Asal-usul Ninja
Kemunculan ninja pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni nonuse ke Jepang. Seni nonuse inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja. Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan. Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.

Pada tahun 794-1192, kehidupan masyarakat jepang mulai berkembang dan melahirkan kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan. Keluarga kelas ini saling bertarung satu sama lain dalam usahanya menggulingkan kekaisaran. Kebutuhan keluarga akan pembunuh dan mata-mata semakin meningkat untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itu permintaan akan para praktisi nonuse semakin meningkat. Inilah awal kelahiran ninja. Pada abad ke-16 ninja sudah dikenal dan eksis sebagai suatu keluarga atau klan di kota Iga atau Koga. Ninja pada saat itu merupakan profesi yang berhubungan erat dengan itelijen tingkat tinggi dalam pemerintah feodal para raja di jepang. Berdasarkan hal itu, masing-masing klan memiliki tradisi mengajarkan ilmu beladiri secara rahasia dalam keluarganya saja. Ilmu beladiri yang kemudian dikenal dengan nama ninjutsu. Dalah ilmu yang diwariskan dari leluhur mereka dan atas hasil penyempurnaan seni berperang selama puluhan generasi. Menurut para ahli sejarah hal itu telah berlangsung selama lebih dari 4 abad. Ilmu itu meliputi falsafah bushido, spionase, taktik perang komando, tenaga dalam, tenaga supranatural, dan berbagai jenis bela diri lain yang tumbuh dan berkembang menurut jaman.

Namun ada sebuah catatan sejarah yang mengatakan bahwa sekitar abad ke-9 terjadi eksodus dari cina ke jepang. Hal ini terjadi karena runtuhnya dinasti tang dan adanya pergolakan politik. Sehingga banyak pengungsi yang mencari perlindungan ke jepang.sebagian dari mereka adalah jendral besar, prajurit dan biksu. Mereka menetap di propinsi Iga, di tengah pulau honsu. Jendral tersebut antara lain Cho Gyokko, Ikai Cho Busho membawa pengetahuan mereka dan membaur dengan kebudayaan setempat. Strategi militer, filsafat kepercayaan, konsep kebudayaan, ilmu pengobatan tradisional, dan falsafah tradisional. Semuanya menyatu dengan kebiasaan setempat yang akhirnya membentuk ilmu yang bernama ninjutsu.

C. Bela diri Ninjutsu
Gerakan beladiri ninjutsu hanya tendangan, lemparan, patahan, dan serangan. Kemudian dilengkapi dengan teknik pertahanan diri seperti bantingan, rolling dan teknik bantu seperti meloloskan diri, mengendap, dan teknik khusus lainnya. Namun, dalam prakteknya ninja menghindari kontak langsung dengan lawannya, oleh karena itu berbagai alat lempar, lontar, tembak, dan penyamaran lebih sering digunakan. Berbeda dengan seni beladiri lain. Ninjutsu mengajarkan teknik spionase, sabotase, melumpuhkan lawan, dan menjatuhkan mental lawan. Ilmu tersebut digunakan untuk melindungi keluarga ninja mereka. Apa yang dilakukan ninja memang sulit dimengerti. Pada satu sisi harus bertempur untuk melindungi, di sisi lain ninja harus menerapkan “berperilaku kejam dan licik” saat menggunakan jurus untuk menghadapi lawan. Disisi lain ajaran ninpo memberi petunjuk bahwa salah satu tujuan ninjutsu adalah mengaktifkan indra keenam mereka. paduan intuisi dan kekuatan fisik pada jangka waktu yang lama memungkinkan para ninja untuk mengaktifkan indra keenamnya. Sehingga dapat mengenal orang lain dengan baik dan mengerti berbagai persoalan dalam berbagai disiplin ilmu.

Di dalam ninpo terdapat teknik beladiri tangan kosong (taijutsu), teknik pedang (kenjutsu), teknik bahan peledak dan senjata api (kajutsu), teknik hipnotis (saimonjutsu), dan teknik ilusi(genjutsu). Pada aliran togaku ryu dikenal adanya energi yang disebut kuji kiri. Prinsipnya adalah penggabungan antara kekuatan fisik dan mental. Penyaluran energi yang tepat dari tenaga kuji kiri dapat bersifat menghancurkan, namun disisi lain jika digunakan untuk olah pikir dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang pelik.

Ninjutsu akan sia-sia jika ninja tidak memiliki mental dan spiritual yang kuat. Untuk itu ninja harus menguasai kuji-in, yaitu kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol yang terdapat di telapak tangan yang dipercaya menjadi saluran energi. Simbol di tangan di ambil dari praktek pada massa awal penyebaran agama budha. Kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. Kuji-in mampu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Dari 81 simbol yang ada, hanya 9 yang utama, yaitu rin(memberi kekuatan tubuh), hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), sha (kemampuan menyembuhkan), kai(memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh), jin(meningkatkan kekuatan telepati), retsu (memberi kekuatan telekinetik), zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam), dan zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman). Seorang ninja akan menjadi master sejati dengan menguasai simbol-simbol ini.

Walaupun terdapat banyak keluarga ninja di jepang, baru sekitar tahun enam puluhan keluarga ninja baru dapat di dekati oleh orang luar. Sejak ninja dinyatakan terlarang oleh shogun tokugawa pada abad 17. pada tahun 1950 larangan tersebut dicabut oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1960 televisi jepang menayangkan laporan dokumentasi dan sejarah ninja. Setelah itu salah satu aliran yang dapat membuka diri dan memperkenalkan ninja ke dunia luar adalah aliran togakure-ryu dengan pewaris dari generasi ke 34, masaaki hatsume,.yang profesi sehari-harinya adalah seorang tabib ahli penyembuhan dan pengobatan tulang. Pada tahun 1978 ninjutsu berhasil di publikasikan dan diajarkan ke amerika oleh stephen k. hayes. Sejak saat itu ninjutsu menjadi cabang beladiri yang paling banyak diminati.

D. Peralatan Ninja
Ninja diharuskan untuk bisa bertahan hidup di tengah alam, karena itu mereka menjadi terlatih secara alamiah untuk mampu membedakan tumbuhan yang bisa dimakan, tumbuhan racun, dan tumbuhan obat. Mereka memiliki metode cerdik untuk mengetahui waktu dan mata angin. Ninja menggunakan bintang sebagai alat navigasi mereka ketika menjalankan misi di malam hari.mereka juga mahir memasang perangkap, memasak hewan, membangun tempat berlindung, menemukan air dan membuat api.

Ninja memakai baju yang menutup tubuh mereka kecuali telapak tangan dan seputar mata. Baju ninja ini disebut shinobi shozoko. shinobi shozoko memiliki 3 warna. Baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi di malam hari dan bisa juga sebagai tanda kematian yang nyata bagi sang target. Warna putih digunakan untuk misi di hari bersalju. Warna hijau sebagai kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Shinobi shozoko memiliki banyak kantong di dalam dan luarnya. Kantong ini digunakan untuk menyimpan peralatan kecil dan senjata yang mereka butuhkan, seperti racun, shuriken, pisau, bom asap dan lain-lain. Ninja juga membawa kotak P3K kecil tradisional, yang diisi dengan cairan dan minuman. Ninja juga memakai tabi yang mirip sepatu boot. Celah yang memisahkan jempol kaki dengan jari lainnya memudahkan ninja saat memanjat tali atau dinding.

Ninja wanita atau kunoichi yang biasanya bekerja dengan menggunakan kefemininan mereka ketika melakukan pendekatan pada sang target menggunakan manipulasi kejiwaan dan perang batin sebagai senjata mereka. mereka bisa mendekati target dan membunuhnya tanpa jejak. Kunoichi memiliki misi yang berbeda dengan ninja laki-laki. Mereka lebih sering dekat dengan target, sehingga mereka juga lebih sering menggunakan senjata jarak dekat seperti metsubishi, racun, golok, tali, dan tessen. Selain itu senjata-senjata tersebut juga praktis dibawa tanpa kelihatan.

Ninja memiliki senjata dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Selain senjata standar seperti pedang, naginata, panah, dan pisau, ada pula tessen (kipas yang bila dikibaskan keluar racun), shobo, kyoketsu shogei, neko te, dan lain-lain. Peralatan canggih ninja lainnya adalah kaginawa(jangkar bertali) untuk memanjat dinding, ashiaro untuk membuat jejak kaki palsu agar tidak terlacak saat menjalankan misi, metsubishi(cangkang telur yang diisi dengan pasir dan serbuk logam, biasanya juga kotoran tikus) yang berfungsi untuk membutakan lawan.

E. Pelatihan Ninja
Pada saat anak-anak ninja telah dilatih untuk waspada dan dididik dalam kerahasiaan dan tradisi ilmu mereka. Pada umur 5-6 tahun mereka diperkenalkan dengan permainan ketangkasan dan keseimbangan tubuh. Anak-anak disuruh berjalan diatas papan titian yang sangat keci, mendaki papan yang terjal, dan melompati semak-semak yang berduri. Pada umur 9 tahun mereka dilatih untuk kelenturan otot. Anak-anak berlatih berguling dan meloncat. Setelah itu anak-anak diajarkan teknik memukul dan menendang pada target jerami yang di ikat. Setelah itu pelatihan meningkat ke seni bela diri tanpa senjata dan setelahnya dasar-dasar menggunakan pedang dan tongkat.

Pada masa remaja mereka diajari cara menggunakan senjata khusus. Melempar pisau, penyembunyian senjata, teknik tali, berenang, taktik bawah air, dan teknik menggunakan alam untuk mendapat informasai atau untuk menyembunyikan diri. Waktu mereka dihabiskan dalam ruang tertutup atau bergelantungan di pohon untuk membangun kesabaran, daya tahan, dan stamina. Terdapat pula latihan gerak tanpa suara dan lari jarak jauh. Mereka juga diajarkan teknik melompat dari pohon ke pohon atau atap ke atap.

Pada masa akir remaja ninja belajar menjadi aktor dan psikologi melalui tingkah laku mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka mulai mengerti cara bekerja jiwa manusia, menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungan mereka. Mereka juga belajar membuat obat-obatan, mendapatkan jalan masuk rahasia ke dalam sebuah bangunan, cara memanjat dinding, melewati atap, mencuri di bawah rantai, mengikat musuh, cara kabur, dan menggambar peta, rute, petunjuk jalan, serta wajah.

Ada 18 tingkat ilmu dan seni berperang ninjutsu dari banyak keahlian yang dimiliki oleh ninja yang dapat dipelajari oleh umum pada saat ini. Selebihnya di luar keterampilan fisik dan penguasaan jiwa, para pendekar ini harus mempelajari latihan batin. Setelah menguasai level ini, ninja bisa sangat ahli dan bahkan dianggap sebagai orang bijak atau dukun, karena kemampuannya menyatu dengan alam dan siklus di sekitarnya.

Delapan belas keahlian tersebut adalah:
1. seishin teki kyoyo (pemurnian jiwa)
ninja aliran tokakure sangat mengandalkan pengenalan jati diri. Seorang ninja harus mengetahui dengan tepat komitmen dan motivasi hidupnya. Dengan pemahaman dan penghayatan terhadap proses pematangan seorang ninja bisa menjadi seorang pendekar yang bijak. Keterlibatan ninja dalam pertarungan dimotivasi oleh alasan untuk melindungi. Tidak dibenarkan jika alasannya semata-mata hanya karena uang.

2. tai jutsu (bertarung dengan tangan kosong)
paduan dari ilmu daken taijutsu(pukul, tendng, tangkis), ju taijutsu(gumul, mencekik, meloloskan dari kuncian), taihen jutsu(gerak tanpa suara, berguling, melompat, cara jatuh). Keterampilan ini di perlukan pada situasi terancam atau bertahan

3. ninja ken (pedang ninja)
pedang ninja adalah pedang pedek lurus bermata tunggal. Pedang adalah senjata utama ninja. Untuk menggunakan pedang dituntut dua keahlian utama yaitu ilmu menarik pedang (dg kecepatan namun halus gerakannya ) sekaligus mengayun untuk memotong.

4. bo jutsu (jurus tongkat dan bilah)
ada 2 jenis tongkat, tongkat panjang sekitar 2 meter(bo) dan tongkat pendek sekitar satu meter(hanbo). Ada lagi senjata dari bilah bambu yang bila di buka di dalamnya ada mata pedang yang sekilas tampak seperti tongkat biasa.

5. shuriken jutsu (senjata lempar)
ilmu lempar berupa lempeng baja dengan mata tajam bersisi empat seperti bintang(senban shuriken) atau paku lempar(bo shuriken). Senban shuriken dilempar dengan cara dipuntir agar bisa menancap dan memberi efek gergaji. Bo shuriken dilempar bersamaan beberapa buah sehingga terlihat seperti kilatan jarum.

6. yari jutsu(jurus tombak)
tombak digunakan untuk pertarungan jarak sedang untuk menangkis dan meredam serangan lawan.

7. naginata jutsu(jurus pedang bertongkat)
pedang pendek yang gagangnya dibuat panjang seukuran tombak. Digunakan ninja untuk memotong lawan yang berada dalam jarak sedang. Bisa digunakan untuk menyerang samurai dan merobohkan tentara berkuda.

8. kusari gama (jurus rantai dan bandul)
berupa rantai sepanjang 2-3 meter yang diberi bandul pada salah satu ujungnya. Pada ujung yang lain dikaitkan pada gagang arit tradisional jepang. Rantai digunakan untuk menangkis serangan senjata lawan.sedangkan bilah arit digunakan untuk menghabisi lawan yang sudah terjerat. Senjata rantai dan bandul yang disukai oleh para ninja aliran togakure adalah kyoketsu yaitu belati lengkung yang gagangnya dipasangi tali halus dari rambut kuda dan ujung tali satu lagi diberi cincin baja besar.

9. henso jutsu (ilmu menyamar dan membaur)
ilmu ini sangat diperlukan pada saat spionase. Ninja membuat identitas palsu dan mengalihkan perhatian orang. Ninja juga bergerak tanpa bisa di lacak.

10. shinobi iri (ilmu mengintai dan menyusup)
ilmu ini mengajarkan bergerak tanpa suara dan bersembunyi di bawah bayangan.

11. ba jutsu
seorang ninja harus bisa bertempur di atas kuda selain menunggang kuda dengan baik di segala medan.

12. sui ren (ilmu tempur dalam air)
meliputi teknik mengintai dengan cara berenang, bergerak tanpa suara dalam air, cara menggunakan perahu khusus untuk mengapung dalam air, dan teknik perkelahian dalam air.

13. bo ryaku (ilmu strategi)
ilmu taktik yang tak lazim digunakan dalam kondisi bertahan atau pertarungan terbuka. Ninja sering memanfaatkan kondisi sekitarnya untuk melaksanakan tugasnya, tanpa banyak mengeluarkan energi.

14. cho ho (ilmu spionase)
ilmu mata-mata termasuk merekrut dan memakai orang yang digunakan sebagai mata-mata.

15. inton jutsu (teknik meloloskan diri dan menghilang)
ninja pandai meloloskan diri dengan memanfaatkan keadaan alam yang ada.

16. ten mon (meteorologi)
memanfaatkan cuaca juga merupakan senjata utama ninja. Sejak kecil mereka dilatih mengendalikan cuaca dari tanda-tanda alam yang kecil.

17. chi mon (geografi)
teknik pemanfaatan lahan.

E. Filosofi Ninja
Filosofi ninja adalah meraih hasil maksimal dengan tenaga minimum. Muslihat dan taktik lebih sering dilakukan daripada konfrontasi langsung. Ninja tidak memiliki status mulia seperti samurai, sehingga ninja bebas melakukan apapun untuk mengatasi masalah, tanpa terikat oleh nama baik keluarga dan kehormatan.

sumber : wikipedia.org http://cobunder2.wordpress.com/2008/07/17/sejarah-ninja/

Aikido

Asal-usul Aikido modern dapat di telusuri ke abad 9, pada jaman feodal di Jepang. Tehnik-tehnik ini adalah berawal dari Pangeran Teijun, anak ke 6 dari Kaisar Seiwa (850-880) dan diturunkan dari generasi ke generasi dari keluarga Minamoto. Pada waktu generasi berikutnya, teknik-teknik itu akhirnya diberikan pada Shinra Saburo Yoshimitsu, adik laki-laki Yishiie Minamoto.

Yoshimitsu adalah seseorang yang mempunyai bakat dan kemampuan yang hebat. Konon sejarahnya berkata bahwa Yoshimitsu mengembangkan banyak teknik-tekniknya dengan mengawasi seekor laba-laba yang dengan ahlinya menjebak serangga yang besar ke dalam sarangnya yang halus. Kemudian Yoshimitsu menamai tehnik-tehnik temuannya dengan nama Daito-ryu Aikijutsu (diambil dari nama rumahnya “Daito Mansion” dan mengambil nama dari sistem Aikijutsu karena dasar dari tehnik ini adalah dari Aikijutsu).
Teknik Daito-ryu ini disampaikan secara rahasia kepada anggota-anggota keluarganya dan pembantu-pembantu, dimana akhirnya mencapai Sokaku Takeda (1859-1943), yang kemudian memainkan peran yang penting dari dasar-dasar Aikido yang modern. Sistem Daito-ryu yang diberikan kepada Sokaku Takeda, jelas berbeda dari yang diajarkan beribu-ribu tahun sebelumnya. Seni bela diri yang dipelajari oleh Takeda tidak diketahui kecuali bahwa latihannya dilakukan di Ono-Ha Itto-ryu Kenjutsu. Semua bukti-bukti mengarah kepada suatu kesimpulan bahwa seni Daito-ryu dari Takeda merupakan suatu perpaduan dari pengalamannya yang luas dalam memberikan pelatihan dan inovasi-inovasi teknis sebagaimana adanya mereka yang merupakan suatu kelanjutan tetap dari tradisi bela diri suku Aizu.

Salah satu murid Takeda adalah Morehei Ueshiba, yang merupakan penemu dari Aikido . Ueshiba yang dilahirkan pada tanggal 14 Desember 1882 bertemu dengan Takeda tahun 1915 setelah menghadiri suatu seminar selama 10 hari yang diadakan oleh Takeda. Ia sangat terkesan melihat teknik-teknik Takeda sehingga dia langsung mempelajari Daito-ryu. Sebagai tambahan, Ueshiba juga mempelajari Kito-ryu Jujitsu, Yagyu Shinkage-ryu Kenjutsu dan ilmu bela diri lainnya yang menggunakan tangan kosong atau senjata.
Ueshiba adalah orang yang juga mempelajari spiritual secara mendalam dan pengikut dari sekte Omotokyo dari agama Shinto. Karena itu pengembangan Aikido sangat dipengaruhi oleh kepercayaan sekte Omotokyo ini.Pada tahun 1931, Ueshiba mendirikan Kobukan dojo atau dojo “neraka”. Saat itu adalah ketika Ueshiba mencapai puncak kejayaan fisiknya. Salah satu dari murid-muridnya pada waktu itu adalah Gozo Shioda yang kemudian mendirikan Yoshinkan Aikido.Ueshiba sangat dihargai oleh ahli-ahli bela diri lainnya pada waktu itu termasuk Jigoro Kano (pendiri Judo) yang mengirim banyak murid-murid Judonya yang hebat untuk mempelajari Aikido. Termasuk dalam hal ini Kenji Tomiki, yang kemudian mengembangkan suatu olah raga dengan mengambil style Aikido-Tomiki dan Mochizuki Minoru yang membentuk Yoseikan Budo. Tahun 1942, Ueshiba pindah ke Iwama dimana Ia membuka sebuah dojo dan mendirikan tempat suci Aiki. Pada tahun 1945, Aikikai didirikan walaupun semua bentuk Budo telah dilarang setelah perang dunia ke dua. Pusat dojo Aikikai di dirikan di Tokyo walaupun Ueshiba tetap tinggal di dojo di Iwama. Dojo yang di Tokyo di urus oleh anaknya Kisshomaru (1921-1999) dan instruktur-instruktur utama lainnya Tohei Kohici yang kemudian membentuk Shin-shin Toitsu Aikido (lebih terkenal dengan nama Ki Society Aikido)

Pada tanggal 26 April 1969 , Sensei Morehei Ueshiba meninggal pada umur 86. Ueshiba Sensei telah meninggalkan teknik bela diri dan ajaran tentang spirit yang sekarang diajarkan di seluruh dunia.